Oleh: friandi | September 17, 2008

TUGAS

SUKU DAYAK

Dayak adalah suku-suku asli yang mendiami Pulau Kalimantan, lebih tepat lagi adalah yang memiliki budaya terestrial (daratan, bukan budaya maritim). Sebutan ini adalah sebutan umum karena orang Daya terdiri dari beragam budaya dan bahasa. Dalam arti sempit, Dayak hanya mengacu kepada suku Ngaju (rumpun Ot Danum) di Kalimantan Tengah, sedangkan arti yang luas suku Dayak terdiri atas 6 rumpun suku. Suku Bukit di Kalimantan Selatan dan Rumpun Iban diperkirakan merupakan suku Dayak yang menyeberang dari pulau Sumatera. Sedangkan suku Maloh di Kalimantan Barat perkirakan merupakan suku Dayak yang datang dari pulau Sulawesi. Penduduk Madagaskar menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Maanyan, salah satu bahasa Dayak (Rumpun Barito).

Ada banyak pendapat tentang asal-usul orang Dayak. Sejauh ini belum ada yang sungguh memuaskan. Pandapat umumnya menempatkan orang Dayak sebagai salah satu kelompok suku asli terbesar dan tertua yang mendiami pulau Kalimantan. Gagasan (penduduk asli) ini didasarkan pada teori migrasi penduduk ke Kalimantan. Bertolak dari pendapat itu, diduga nenek moyang orang Dayak berasal dari beberapa gelombang migrasi.

Gelombang pertama terjadi kira-kira 1 juta tahun yang lalu tepatnya pada periode Interglasial-Pleistosen. Kelompok ini terdiri dari ras Australoid (ras manusia pre-historis yang berasal dari Afrika). Pada zaman Pre-neolitikum, kurang lebih 40.000-20.000 tahun lampau, datang lagi kelompok suku semi nomaden (tergolong manusia moderen, Homo sapiens ras Mongoloid). Penggalian arkeologis di Niah-Serawak, Madai dan Baturong-Sabah membuktikan bahwa kelompok ini sudah menggunakan alat-alat dari batu, hidup berburu dan mengumpulkan hasil hutan dari satu tempat ke tempat lain. Mereka juga sudah mengenal teknologi api. Kelompok ketiga datang kurang lebih 5000 tahun silam. Mereka ini berasal dari daratan Asia dan tergolong dalam ras Mongoloid juga. Kelompok ini sudah hidup menetap dalam satu komunitas rumah komunal (rumah panjang?) dan mengenal tekhnik pertanian lahan kering (berladang). Gelombang migrasi itu masih terus berlanjut hingga abad 21 ini. Teori ini sekaligus menjelaskan mengapa orang Dayak memiliki begitu banyak varian baik dalam bahasa maupun karakteristik budaya.

Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, yakni Kenyah-Kayan-Bahau, Ot Danum, Iban, Murut, Klemantan dan Punan. Keenam rumpun itu terbagi lagi dalam kurang lebih 405 sub-rumpun. Meskipun terbagi dalam ratusan sub-rumpun, kelompok suku Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu apakah suatu subsuku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak. Ciri-ciri tersebut adalah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong (kampak Dayak); pandangan terhadap alam, mata pencaharian (sistem perladangan), dan seni tari. Perkampungan Dayak biasanya disebut lewu/lebu, sedangkan perkampungan kelompok suku-suku Melayu disebut benua/banua. Di kecamatan-kecamatan di Kalimantan yang merupakan wilayah adat Dayak dipimpin seorang Kepala Adat yang memimpin satu atau dua suku Dayak yang berbeda, tetapi di daerah perkampungan suku-suku Melayu tidak ada sistem kepemimpinan adat kecuali raja-raja lokal.Suku Dayak mempunyai berbagai macam seni budaya, antara lain :

A.Tarian dan Musik Tradisional Dayak

Antara lain :

Tari Pemung Tawai

Tari PEMUNG TAWAI (Dayak Kenyah)

Tari Iruang WudrungTari yang mengungkapkan bagaimana kita hidup dalam satu lingkungan. Hidup dengan selalu bersatu hati, bersatu pikiran dan saling menghargai satu dengan lainnya.

Tari IRUANG WUDRUNG (Dayak Ma’anyan)

Ditarikan oleh kelompok penari perempuan, yang disebut “Wadian Dadas” bersama-sama dengan kelompok penari laki-laki, disebut “Wadian Bawo”. Tarian ini biasanya dibawakan di berbagai upacara ritual orang Dayak Ma’anyan, seperti upacara penyembuhan, pernikahan, penyambutan tamu dan tradisi tahun baru (waktu panen pertama). Janur kelapa yang menjadi asesoris penari digunakan sebagai symbol untuk mengusir roh-roh jahat yang akan mengganggu jalannya upacara.

Tari Anyaman

Tari ANYAMAN (Dayak Kenyah)

Tari HudoqTari yang menggambarkan tentang bagaimana kita hidup dalam satu wilayah yang beraneka adat istiadat, budaya, etnis suku dan agama yang berbeda-beda. Harapan kita, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu dan saling terikat antara satu dengan yang lainnya. Maka kehidupan tersebut dilambangkan dengan tarian anyaman. Dan burung Enggang sebagai pemersatu suku-suku Dayak.

Tari HUDOQ (Dayak Bahau-Busang)

Melambangkan turunnya para dewa dari kayangan, yang mengetahui para petani di bumi sedang menanam padi. Tujuan mereka turun ke bumi adalah untuk mengusir seluruh hama tanaman padi. O.k.i, tarian ini biasanya dilakukan masyarakat Dayak Bahau-Busang setelah menanam padi.

Tari Uok Botung

Tari UOK BOTUNG (Dayak Paser)

“Uok Botung” adalah sebutan terhadap roh jahat berwujud hantu yang berasal dari pohon bambo, yang mengganggu kehidupan warga setempat. Lima kesatria yg merasa iba thd warga desa kmdn bertekad membunuh Uok Botung namun gagal karena kalah kesaktian. Kmdn Dewa Bumi membantu lima kesatria tsb, yg pada akhirnya mereka dapat menerbangkan mandau dan mengalahkan Uok Botung.

Tari MAHO DORAN KORY/Wanita Legendaris (Dayak Aoheng)

Perang tanding antara pangeran (tunangan sang puteri yg cantik dan bijaksana) dengan pangeran lain yg ingin mendekati putri tsb. Salah satu pangeran kalah dan kembali ke asalnya dan putri menerima pangeran gagah berani yg menang dalam perkelahian tsb. (Maap niy, potonya ga ada, saya jg heran..kok ga moto yaa, kayaknya saya pas lg asyik nyari cemilan deh..)

Tari KODE BURA (Dayak Paser)

Menceritakan ttg lahirnya Kode Bura atau kera putih. Dahulu, kode bura adalah manusia biasa, yang membunuh dan memakan jantung seorang putri sakti karena ingin memiliki kesaktiannya berupa bisa hidup di dua alam. Namun alam menjadi murka dan mengutuk pemuda tersebut menjadi seekor kera putih.

Tari Tinggang Moru

Tari TINGGANG MORU/Enggang mandi (Dayak Aoheng)

Burung Enggang adalah burung cantik, anggun, peliharaan para dewa dan menjadi lambang suku Dayak. Gerak terbang, loncat, hinggap,dan mandi burung Enggang sangat mempesona shg dibuatlah tarian ini.

Tari Belian Sentiw/Bawo

Tari BELIAN SENTIW/BAWO (Dayak Tunjung)

Tari LonyaqBelian adalah beberapa macam atau bagian dari cara pengobatan orang Dayak, dimana dg Belian ini orang Dayak mengobati orang sakit. Pengobatan dg cara meminta pada leluhur, para dewa, dan penguasa alam. Dalam upacara itu, dukun belian diharapkan dpt menyembuhkan orang sakit.

Tari LONYAQ (Dayak Ahoeng)

Lonyaq adalah tokoh legenda, seorang pahlawan gagah berani yg mempunyai kesaktian. Pemberantas kejahatan, pembela sukunya dan penakluk suku-suku lain. Senjata dan saran perangnya dibuat dg kesaktiannya. Dia terbang kemana-mana dg caping atau seraung sakti. Konon dia kebal thd senjata apapun, dan sekali tebas mandaunya dpt membunuh ratusan orang. Setelah berperang, Lonyaq kembali ke desa dan dielu-elukan masyarakat serta dipuja wanita.

B.Senjata Suku Dayak

Suku ini juga mempunyai berbagai senjata, antara lain :

1.Sipet / Sumpitan. Merupakan senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter 2-3 cm, panjang 1,5 – 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang ¼ – ¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpitan (Damek). Ujung atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah di anyam. Anak sumpit disebut damek, dan telep adalah tempat anak sumpitan. .

2.Lunju / Tombak. Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau kayu keras.

3.Telawang / Perisai. Terbuat dari kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 – 2 meter dengan lebar 30 – 50 cm. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai makna tertentu. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan.

4.Mandau. Merupakan senjata utama dan merupakan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa. Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah, diukir dengan emas/perak/tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. Mandau mempunyai nama asli yang disebut “Mandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau”, merupakan barang yang mempunyai nilai religius, karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Batu-batuan yang sering dipakai sebagai bahan dasar pembuatan Mandau dimasa yang telah lalu yaitu: Batu Sanaman Mantikei, Batu Mujat atau batu Tengger, Batu Montalat.

5.Dohong. Senjata ini semacam keris tetapi lebih besar dan tajam sebelah menyebelah. Hulunya terbuat dari tanduk dan sarungnya dari kayu. Senjata ini hanya boleh dipakai oleh kepala-kepala suku, Demang, Basir.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.